Dalam upaya mewujudkan cita-cita dan mempertahankan kedaulatan bangsa ini tentu akan menghadapi banyak permasalahan, hambatan, rintangan dan bahkan ancaman yang harus dihadapi.
Masalah-masalah yang harus dihadapi itu beraneka ragam. Banyak masalah yang timbul sebagai warisan masa lalu, masalah yang timbul sekarang maupun masalah yang timbul di masa depan negara kita. Dengan masalah-masalah yang sudah ada maupun yang akan datang, penting bagi rakyat Indonesia, terutama kaum pemuda dan mahasiswa untuk membiasakan diri dalam meningkatkan dan memperbaiki produktifitas kita sebagai Bangsa Indonesia
Berita hoax dan hate speech telah mengoyak generasi muda. Pasalnya, pengguna media sosial mayoritas adalah mereka yang masih berusia mudah. Tak sedikit pula yang masih berstatus sebagai pelajar. Anak usia SD, SMP saja sekarang banyak yang sudah aktif di media sosia. Mereka memiliki akun di Facebook, BBM, Instagram atau lainnya. Terlebih mereka yang duduk di bangku SMA atau yang telah kuliah. Jangan tanya, mungkin hampir semua berselancar di dunia maya. Sebab itu, berita hoax dan hate speech menjadi tanggungjawab generasi muda. Generasi muda dituntut cermat dalam membaca keadaan.
Sebuah langkah guna mengantisipasi mudharat berita hoax dan hate speech. Pertama, menanamkan kejujuran lebih kuat lagi. Sebenarnya dalam pendidikan kita ada yang disebut dengan pendidikan karakter. Yakni upaya menanamkan karakter baik pada peserta didik. Pendidikan karakter menjadi bagian integral dalam setiap mata pelajarann. Pembiasaan jujur sejak dini itu penting. Mulailah dari hal-hal kecil di dalam menyebar sebuah berita. Biasakan peserta didik jujur dalam berkata. Jujur akan membiasakan mereka menyampaikan berita benar, akurat. Sehingga mereka tak akan membuat berita hoax dan hate speech di media sosial.
Kedua, membiasakan tabayyun pada peserta didik. Secara bahasa tabayyun memilki arti mencari kejelasan tentang sesuatu sampai jelas benar keadaanya. Tabayyun adalah meneliti dan menyeleksi berita, tidak tergesa-gesa dalam memutuskan masalah baik dalam hal hukum, agama, kebijakan publik, sosial-politik dan sebagainya hingga menjadi jelas permasalahannya.
Ketiga ,menanamkan keteladanan sifat wajib bagi nabi/rasul. Seperti diketahui ada empat sifat wajib rosul yang wajib diteladani. Yaitu sidiq, fathonah, amanah, dan tablig. Dalam menangkal berita hoax dan hate speech, sifat siddiq, fathonah dan tablig patut ditanamkan lebih kuat pada generasi muda. Siddiq artinya benar. Ini mengajarkan agar kita selalu berkata benar, sesuai kenyataan. Bicaralah dengan fakta. Tulislah apa yang ada, yang terjadi. Tidak mengada-ada.
Fathonah diartikan cerdas dalam segala hal. Cerdas dalam membaca dan mencerna berita, memilah dan memilih bacaan. Cerdas dalam bersikap. Juga, cerdas dalam berkata dan menulis sesuatu di media sosial. Kita sebagai generasi muda untuk membaca, karena membaca merupakan jendela dunia. Membaca mendatangkan ilmu. Berbekal ilmu, mereka menjadi cerdas menyikapi berita hoax dan hate speech pada media sosial.
Tablig artinya menyampaikan. Tablig adalah kemampuan berkomunikasi dengan baik. Informasi jika disampaikan dengan cara tidak tepat akan dipahami secara selah oleh yang lain. Kemampuan komunikasi selayaknya dilatih mulai dari sekarang mumpung kita masih mempunyai kesempatan tersebut, dan masih banyak ilmu pengetahuan yang perlu kita pelajari terutama sikap kita dalam menyikapi penyebaran berita dimedia sosial.
Singkat kata, berita hoax adalah fakta di sekeliling kita. Berita hoax akan hampa, tak bermakna jika masyarakat cerdas menyikapinya. Hoax tak akan berpengaruh kalau kita semua bisa membedakanya dengan berita yang benar. Dan pastinya, para penyebar hoax akan menyesal karena tak memperoleh respon yang diinginkan. Hate Speech (Ucapan Penghinaan/atau kebencian) adalah tindakan komunikasi yang dilakukan oleh suatu individu atau kelompok dalam bentuk provokasi, hasutan, ataupun hinaan kepada individu atau kelompok yang lain dalam hal berbagai aspek seperti ras, warna kulit, etnis, gender, cacat, orientasi seksual,kewarganegaraan, agama, dan lain-lain. Wa Allahu Alam
Shafar Muna-Ambon