Sabtu, 28 Januari 2023

Peran Generasi Muda Dalam Menangkal Hoax and Hatespeech

 Masa depan Bangsa Indonesia sangatlah ditentukan oleh paran generasi muda Bangsa ini. Kaum Muda Indonesia adalah masa depan Bangsa ini. Karena itu, setiap pemuda Indonesia, baik yang masih berstatus pelajar, mahasiswa ataupun yang sudah menyelesaikan pendidikannya merupakan factor-faktor penting yang sangat diandalkan oleh Bangsa Indonesia dalam mewujudkan cita-cita bangsa dan juga mempertahankan kedaulatan Bangsa.
Dalam upaya mewujudkan cita-cita dan mempertahankan kedaulatan bangsa ini tentu akan menghadapi banyak permasalahan, hambatan, rintangan dan bahkan ancaman yang harus dihadapi. 

Masalah-masalah yang harus dihadapi itu beraneka ragam. Banyak masalah yang timbul sebagai warisan masa lalu, masalah yang timbul sekarang maupun masalah yang timbul di masa depan negara kita. Dengan masalah-masalah yang sudah ada maupun yang akan datang, penting bagi rakyat Indonesia, terutama kaum pemuda dan mahasiswa untuk membiasakan diri dalam meningkatkan dan memperbaiki produktifitas kita sebagai Bangsa Indonesia


Berita hoax dan hate speech telah mengoyak generasi muda. Pasalnya, pengguna media sosial mayoritas adalah mereka yang masih berusia mudah. Tak sedikit pula yang masih berstatus sebagai pelajar. Anak usia SD, SMP saja sekarang banyak yang sudah aktif di media sosia. Mereka memiliki akun di Facebook, BBM, Instagram atau lainnya. Terlebih mereka yang duduk di bangku SMA atau yang telah kuliah. Jangan tanya, mungkin hampir semua berselancar di dunia maya. Sebab itu, berita hoax dan hate speech menjadi tanggungjawab generasi muda. Generasi muda dituntut cermat dalam membaca keadaan.

Sebuah langkah guna mengantisipasi mudharat berita hoax dan hate speech. Pertama, menanamkan kejujuran lebih kuat lagi. Sebenarnya dalam pendidikan kita ada yang disebut dengan pendidikan karakter. Yakni upaya menanamkan karakter baik pada peserta didik. Pendidikan karakter menjadi bagian integral dalam setiap mata pelajarann. Pembiasaan jujur sejak dini itu penting. Mulailah dari hal-hal kecil di dalam menyebar sebuah berita. Biasakan peserta didik jujur dalam berkata. Jujur akan membiasakan mereka menyampaikan berita benar, akurat. Sehingga mereka tak akan membuat berita hoax dan hate speech di media sosial.

Kedua, membiasakan tabayyun pada peserta didik. Secara bahasa tabayyun memilki arti mencari kejelasan tentang sesuatu sampai jelas  benar keadaanya. Tabayyun adalah meneliti dan menyeleksi berita, tidak tergesa-gesa dalam memutuskan masalah baik dalam hal hukum, agama, kebijakan publik, sosial-politik dan sebagainya hingga menjadi jelas permasalahannya.

Ketiga ,menanamkan keteladanan sifat wajib bagi nabi/rasul. Seperti diketahui  ada empat sifat wajib rosul yang wajib diteladani. Yaitu sidiq, fathonah, amanah, dan tablig. Dalam menangkal berita hoax dan hate speech, sifat siddiq, fathonah dan tablig patut ditanamkan lebih kuat pada generasi muda. Siddiq artinya benar. Ini mengajarkan agar kita selalu berkata benar, sesuai kenyataan. Bicaralah dengan fakta. Tulislah apa yang ada, yang terjadi. Tidak mengada-ada.       

Fathonah diartikan cerdas dalam segala hal. Cerdas dalam membaca dan mencerna berita, memilah dan memilih bacaan. Cerdas dalam bersikap. Juga, cerdas dalam berkata dan menulis sesuatu di media sosial. Kita sebagai generasi muda untuk membaca, karena membaca merupakan jendela dunia. Membaca mendatangkan ilmu. Berbekal ilmu, mereka menjadi cerdas menyikapi berita hoax dan hate speech pada media sosial.

Tablig artinya menyampaikan. Tablig adalah kemampuan berkomunikasi dengan baik. Informasi jika disampaikan dengan cara tidak tepat akan dipahami secara selah oleh yang lain.  Kemampuan komunikasi selayaknya dilatih mulai dari sekarang mumpung kita masih mempunyai kesempatan tersebut, dan masih banyak ilmu pengetahuan yang perlu kita pelajari terutama sikap kita dalam menyikapi penyebaran berita dimedia sosial.

Singkat kata, berita hoax adalah fakta di sekeliling kita. Berita hoax akan hampa, tak bermakna jika masyarakat cerdas menyikapinya. Hoax tak akan berpengaruh kalau kita semua bisa membedakanya dengan berita yang benar. Dan pastinya, para penyebar hoax akan menyesal karena tak memperoleh respon yang diinginkan. Hate Speech (Ucapan Penghinaan/atau kebencian) adalah tindakan komunikasi yang dilakukan oleh suatu individu atau kelompok dalam bentuk provokasi, hasutan, ataupun hinaan kepada individu atau kelompok yang lain dalam hal berbagai aspek seperti ras, warna kulit, etnis, gender, cacat, orientasi seksual,kewarganegaraan, agama, dan lain-lain.  Wa Allahu Alam


Shafar Muna-Ambon

Jumat, 07 Agustus 2020

Musuh dan Penghianat

 Situasi kadang membuat seseorang di kuasai oleh ego atas ketidakpuasaan. benar kata orang-orang semuanya akan ambyar pada waktunya kemungkinan keterbatasan dari hidup sehingga kesadaran itu hilang akan tetapi kita tetap memaksakan keadaan tanpa memikirkan keterbatasan kita. 

Jika suatu saat kawan-kawan mengalami masalah dengan orang dekat anda jika ingin memilih jalan tersebut saran saya jadilah seorang musuh !!!  karna sebagai musuh peran berbeda dan cara kita menyikapinya berbeda bisa secara diam tanpa melukai, merugikan orang-orang daripada menjadi seorang penghianat. Kehidupan akan terus berlanjut meskipun butiran air akan tetap tersisa tapi kawan menjadi seorang musuh lebih dingin daripada penghianat. 

Penghianat akan terus tergores, teringat, serta tumbuh membekas tapi seorang musuh hanya menghasilkan kebencian yang tertanam dan kelak kebencian itu akan layu, berlalu, terhapus oleh waktu nurani manusia, percayalah suatu kelak kita bersama lagi. Kadang musuh mengajari kita berdiri pada diri sendiri sedangkan penghianat hanya ingin melihat kita jatuh terpuruk. Pembelajaran sangat penting bagi sesama tapi sebuah pilihan lebih layak dipertimbangkan untuk melangkah lebih jauh.

#Hangat dan Menyejukkan

#Shafar_MA

Sabtu, 07 Desember 2019

Sejarah Sulawesi Tenggara

"Pahlawan dari Sulawesi Tenggara"

(La Ode Muhammad Falihi dan La Ode Manarfa)

1. Pendahuluan
Pahlawan Nasional adalah gelar yang diberikan oleh Pemerintah Indonesia kepada seseorang warga Negara Indonesia yang semasa hidupnya melakukan tindak kepahlawanan dan berjasa sangat luar biasa bagi kepentingan bangsa dan negara. Salah satu kriterianya yaitu Warga Negara Indonesia yang telah meninggal dunia dan semasa hidupnya Telah memimpin dan melakukan perjuangan bersenjata atau perjuangan politik/ perjuangan dalam bidang lain mencapai/ merebut /memper tahankan/mengisi kemerdekaan serta mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa dan telah melahirkan gagasan atau pemikiran besar yang dapat menunjang pembangunan bangsa dan negara.
Sampai saat ini, Sulawesi Tenggara masih saja belum mempunyai tokoh yang dijadikan sebagai Pahlawan Nasional. Padahal, keberadaan Pahlawan dapat meningkatkan rasa nasionalisme terhadap Bangsa, mungkin juga karena itu, pengangkatan tokoh daerah menjadi Pahlawan Nasional dijadikan alat politik untuk merangkul kembali daerah yang rawan konflik untuk tetap kepangkuan Indonesia. Kita bisa melihat daerah-daerah yang yang kerap terjadi pemberontakan justru banyak mempunyai pahlawan Nasional yang berasal dari tokoh daerah, misalnya Teuku Umar, Tuanku Imam Bonjol, Sultan Hasanuddin, Pattimura, dll, meskipun belakangan banyak yang menggugat kepahlawanan mereka, namun Mereka adalah tetap tokoh-tokoh daerah yang dijadikan Pahlawan Nasional dan menjadi inpiratif walaupun kontroversial. Mengapa Sulawesi Tenggara belum mempunyai seorangpun Pahlawan? Mungkinkah memang tidak ada? Atau mungkin karena Sulawesi Tenggara merupakan Provinsi yang paling adem ayem selama berdirinya Bangsa Indonesia ini, jadi fungsi politik dari adanya Pahlawan Nasional di Sultra belum begitu mendesak?.
Entah berapa kali Sultra mengusulkan beberapa nama kepemerintah Pusat untuk dijadikan Pahlawan Nasional namun belum berhasil. Nama tersebut adalah Lakilaponto/Halu Oleo (Sultan Murhum) yang merupahkan tokoh pejuang dan pemersatu kerajaan di Sulawesi Tenggara dan Sultan Himayatuddin (Oputa yi Koo) yang merupakan Sultan yang berjuang melawan penjajahan Belanda sampai akhir khayatnya. Pemprov Sultra hanya terpaku atas dua nama tersebut, sedangkan putra daerah yang layak menjadi Pahlawan Nasional lebih dari itu, salah satu dari mereka adalah La Ode Muhammad Falihi Kaimuddin Khalifatul Khamis dan Al Muakram almarhum La Ode Manarfa.

2. Tokoh Pahlawan Nasional Asal Sulawesi Tenggara

A. La Ode Muhammad Falihi, Sultan Buton ke-38 (1937-1960 M).
La Ode Falihi adalah sultan Buton yang pada masa kepemimpinannya berada pada saat Indonesia sedang berjuang melawan hegemoni Belanda, dan mengusir penjajah dari nusantara. Dimanakah nilai kepahlawana La Ode Muhammad Falihi bagi Bangsa Indonesia? Untuk mengetahuinya, ada baiknya kita harus mengetahui kedudukan kesultanan Buton terhadap bangsa Indonesia disaat-saat awal berdirinya bangsa Indonesia.

a. Kedudukan Kesultanan Buton Terhadap Bangsa Indonesia
Kerajaan/Kesultanan Buton yang berdiri sejak abad ke-13 adalah merupakan negara yang berdaulat dan mempunyai pemerintahan tersendiri. Hal ini dapat dibuktikan dengan Perjanjian Korte Verklaring pada masa pemerintan Sultan ke-33 Muhammad Asikin antara kesultanan Buton dan kerajaan Belanda pada 18 april 1906, dimana dalam perjanjian tersebut kesultanan Buton mengakui kekuasaan Belanda dan Belanda tidak menguasai Buton. Inti dari perjanjian ini yaitu Kesultanan Buton dan Belanda saling menghargai wilayah kekuasaan masing-masing negara, dimana Buton mengakui kekuasaan Belanda yang meliputi Irian, Maluku, Sulawesi Selatan sampai Utara, sebagian Kalimantan, Jawa, Bali, dan Sumatra, sedangkan Belanda mengakui wilayah kedaulatan Kesultanan Buton. Perjanjian ini menguatkan perjanjian yang telah dilakukan oleh sultan-sultan sebelumnya sejak perjanjian “Pesrsekutuan Abadi” yang dilakukan oleh Sultan Buton ke-4 Dayanu Iksanuddin dengan Gubernur jendral VOC, Pieter Both pada 17 Desember 1613. Adapun wilayah kekuasaan Buton yang diakui dalam perjanjiaan 1906 yaitu meliputi Sulawesi Tenggara ( - afdeling Kolaka) pada saat ini, bahkan meliputi selayar di Sulawesi Selatan dan pulau Menui di Sulawesi Tengah (Afdeling Buton dan Laiwui (Kendari) digabungkan dengan Bungku dan Mori yang Beribukotakan di Baubau Buton).
Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 agustus 1945, Indonesia dengan Belanda pengadakan Perjanjian Linggar Jati pada tanggal 7 oktober 1947. Dimana dalam perjanjian tersebut Belanda mengakui kedaulatan Indonesia atas Jawa, Sumatra dan Madura, sedangkan wilayah indonesia timur tetap dikuasai oleh Belanda, namun dalam hal ini tidak termasuk Kesultanan Buton (perjanjian Korte Verklaring). Pada 7- 24 desember 1947, Belanda menggagas berdirinya Negara Indonesia Timur di Denpasar Bali yang terdiri atas 13 daerah otonomi (Sulawesi Selatan, Minahasa, Kepulauan Singihe dan Talaud, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Bali, Lombok, Sumbawa,Flores, Sumba, Timor dan Kepulauan, Maluku Selatan dan Maluku Utara) dan lima Keresidenan yaitu Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Bali, Lombok dan Maluku. Jadi Juga dalam hal ini, Kesultanan Buton, masih merupakan negara yang berdaulat dan tidak termasuk wilayah Negara Indonesia Timur (NIT).
Setelah Agresi Belanda yang ke-2, Pada tanggal 23 agustus - 27 Desember 1949, Indonesia yang saat itu masih bernama RIS (Jawa, Madura dan Sumatra) kembali mengadakan perjanjian dengan Belanda melalui Konferensi Meja Bundar (KMB), dimana hasil dari perjanjian tersebut yaitu Negara Indonesia Timur (NIT) diintegrasikan kedalam Republik Indonesia Serikat (RIS), dan semua bekas jajahan Belanda (Hindia-Belanda) tidak termasuk Irian Barat.
Jadi Jelaslah berdasarkan beberapa perjanjian diatas (Korte Verklaring (1906), pernjian Linggar Jati (1946) , Konferensi Denpasar (1949) dan Konferensi Meja Bundar(1949)) maka sampai akhir tahun 1950, Wilayah Indonesia sekarang, saat itu masih terdiri atas 3 negara berdaulat yaitu Belanda (Irian Barat), Indonesia (NITdan RIS) dan Kesultanan Buton (Sulawesi tenggara dan Timur). Dalam Hal ini, Kedudukan kesultanan Buton Sejajar dengan Belanda dan Indonesia.

b. Integrasi Kesultanan Buton ke NKRI dan cikal bakal Provinsi Sulawesi Tenggara
menyadari akan kedudukan Kesultanan Buton yang berdaulat, pada awal februari 1950, Ir.Sukarno menggelar Pertemuan di Malino (Makassar) dengan mengundang seluruh raja-raja sesulawesi dihadiri Sultan Andi Mappanyuki (raja Bone) dan Andi Pangerang Pettarani (gubenur afdeling makassar) yang sebelumnya telah masuk kedalam wilayah RI (KMB), serta kesultanan buton yang diwakili oleh sultan La Ode Muh. Falihi. Pada Pertemuan tersebut Ir. Soekarno menawarkan bentuk pemerintahan baru kepada Sultan La Ode Falihi yaitu bentuk negara NKRI dengan menawarkan Kesultanan Buton dengan opsi menjadi wilayah istimewah. Pada 15 Januari 1951, democratiseering dilakukan terhadap anggota-anggota swapraja Buton dan disaksikan Kepala Daerah Sulawesi Tenggara Abdul Razak Bagindo Maharaja Lelo dan Kesultanan Buton pun berakhir. Dalam proses selanjutnya, Buton pada tahun 1952 menjadi bagian dari Provinsi Sulawesi Selatan-Tengara (Suseltra) yang terdiri atas dua kabupaten yaitu kabupaten Sulawesi Selatan yang beribukota di Ujung Pandang dan Kabupaten Sulawesi Tenggara (Bekas wilayah Kesultanan Buton) yang beribukota di Baubau (Buton) dengan pusat pemerintahan di Ujung Pandang (makassar). Pada tahun 1960, Kabupaten Sulawesi Tenggara di mekarkan menjadi empat kabupaten yaitu Buton, Muna, Kolaka dan Kendari. Dan tahun 1962, Sulawesi tenggara menjadi sebuah Provinsi dengan Ibukota di Kendari.

c. Letak Kepahlawanan La Ode Muhammad Falihi
Masuknya Kesultanan Buton (Baca; Sulawesi Tenggara Sekarang) kedalam wilayah NKRI ini tidak terlepas dari jasa Sultan Buton La Ode Muhammad Falihi yang secara sukarela mengintegrasikan wilayah kekuasaannya yang luas masuk kedalam wilayah Indonesia. Walaupun pada akhirnya sepeninggal beliau (1960), Kesultanan Buton yang semula dijanjikan menjadi daerah istimewah oleh RI malah mendapat perlakuan bejat dari oknum tentara RI dibawah pemerintahan Orde Baru yang tidak menginginkan Wilayah bekas Kesultanan Buton berkembang lebih baik. Upaya itu dilakukan dengan menahan dan membunuh kader-kader terbaik Buton. Akibat peristiwa kemanusian yang terjadi pada tahun 1965 yang menyebabkan kematian hak-hak asasi kemanusian, sipil dan hak-hak politik, serta kematian budaya masyarakat Buton yang telah berkembang lebih dari enam abad setelah perluasan dari isu basis PKI yang dilancarkan oleh oknum TNI terhadap masyarakat dan pemimpin-pemimpin Buton. Peristiwa tersebut menyebabkan Gubenur pertama Sulawesi Tenggara La Ode Hadi di Lengserkan pada 1965 dan Bupati Buton Kasim ditahan dan akhirnya terbunuh dipenjara tahun 1969. Pembunuhan karakter masyarakat Buton tersebut berlansung terus sampai masa Orde Reformasi (1998).
Bagi Indonesia khususnya masyarakat Buton, Masuknya kesultanan Buton kedalam NKRI adalah hadiah yang besar yang diberikan Sultan La Ode Muhammad Falihi kepada Ir. Sukarno sebagai presiden Indonesia pertama. Masuknya Kesultanan Buton menyebabkan pupusnya harapan kolonial Belanda untuk kembali ke Indonesia bagian tengah. Sebab sebelumnya, kesultanan Buton jauh lebih dekat dengan Belanda ketimbang daerah lain. Dengan demikian sudah sepantasnya jasa Baginda harus diperhitungkan bagi Republik ini dan sangat layak menjadi Pahlawan Nasional seperti halnya Sultan Andi Mappanyuki (Raja bone) dan Andi Pangerang Pettarani yang sama-sama berjuang memasukkan NIT kedalam NKRI.

B. La Ode Manarfa

La Ode Manarfa Lahir di Buton, Sulawesi Tenggara, 22 Maret 1917, adalah putra tertua Sri Sultan Buton ke-38, La Ode Falihi Qaimuddin Khalifatul Khamis. Sang ibu, Wa Ode Azizah, anak dari Lakina Sorawolio yang masih keturunan Raja Buton I. Karena itulah, beberapa orang menganggapnya sebagai sultan terakhir Keraton Buton. Setelah meraih gelar sarjana di bidang Indologie (ilmu tentang Indonesia) dari Verenigde Vakultaiten Universiteit Leiden, Belanda, pada 1952, Manarfa menjadi sarjana pertama di wilayah Sulawesi Selatan-Tenggara (Sulselra). Entah apa jadinya dunia pendidikan di Sulawesi Selatan dan Tenggara tanpa nama La Ode Manarfa. Dia menjadi legenda hidup dunia pendidikan tinggi di Sulawesi bukan hanya karena separuh umurnya dihabiskan untuk mendirikan dan mengembangkan kemajuan pendidikan-sepe
rti Universitas Hasanuddin-di daerahnya, tetapi juga karena dialah contoh keturunan bangsawan yang memilih hidup bersahaja dan berkeliling Sulawesi untuk tak henti-hentinya mendirikan universitas bagi rakyat Sulawesi, sekaligus menjadi satu-satunya pengajar tertua yang masih bersemangat memberikan kuliah dalam keadaan tubuh yang renta.

1. Mendirikan Universitas Hasanuddin (Sulawesi Selatan)
Sebagian akhir hayatnya manarfah menghabiskan hidupnya didunia pendidikan. Sebagai Bupati di Kabupaten Sulawesi Tenggara pada tahun 1952, Manarfah bersama rekan-rekannya mendirikan Universitas di Ujung Pandang sebagai Ibukota Sulawesi Selatan-Tenggara empat tahun kemudian. Saat itu Indonesia baru saja merdeka. Kehidupan serba terbatas dan hanya pulau Jawalah yang dianggap makmur dan menjadi pusat dari segala kegiatan. Pulau lain seperti Sulawesi tergolong terbelakang. Manarfah menyadari betapa susahnya saat itu, tapi Manarfa tak mudah menyerah. Ia merogoh kocek sendiri demi suatu kegiatan yang kurang populer dan kurang komersial ketika itu. Universitas yang dibangun tersebut adalan Universitas Hasanuddin. Sumbangan Manarfa bukan cuma dana, tapi juga ide. Dialah yang mengusulkan agar Universitas Hasanuddin, perguruan tinggi terbesar di Sulawesi Selatan itu, menggunakan gambar ayam jantan sebagai lambang. Manarfa bercerita, gambar ayam jago itu tercetus dalam sebuah rapat menentukan logo Universitas Hasanuddin.
Universitas Hasanuddin menjadi Universitas termaju di Indonesia bagian timur, universitas yang dibangun menggunakan dana La Ode Manarfa kini telah menjadi kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan dan Indonesia Timur. Universitas tersebut telah menghasilkan pemimpin-pemimpin bangsa, salah satunya wakil Presiden Yusuf Kalla. Saat ditemui dan ditanya wartawan majalah TEMPO tahun 2002, berapa dana yang iya keluarkan? Manarfa enggan menjawabnya. "Prinsip saya, jika tangan kanan memberi, tangan kiri tak perlu tahu," katanya.

2. mendirikan Universitas Haluoleo (sulawesi Tenggara)
Menyadari betapa pendidikan kemudian membawa Sulawesi melangkah begitu pesat, Manarfa mendirikan Universitas Sulawesi Tenggara di Kabupaten Buton pada tahun1960 sebagai. Tapi perguruan tinggi ini terpaksa dipindahkan ke Kendari, seiring dengan terlepasnya Provinsi Sulawesi Tenggara dari Sulawesi Selatan pada tahun 1964 dan perpindahan Ibukota Provinsi di Kendari. Tak tanggung-tanggung, semua fasilitas Universitas Sulawesi Tenggara yang dibeli Manarfa dengan uang pribadi juga diangkutnya ke Kendari. Setelah pindah, Universitas Sulawesi Tenggara berganti nama menjadi Universitas Haluoleo, dengan status Swasta. Status ini baru berubah menjadi Universitas Negeri pada tahun 1981, juga karena perjuangan Manarfa. Tetapi Manarfa bukanlah sosok yang membutuhkan posisi, jabatan, apalagi uang. Meski sebagai pendiri ia memiliki peluang yang luar biasa besar untuk menjadi rektor pertama di Universitas Haluoleo, ia memilih pulang ke Buton dan lagi-lagi menanam bibit baru.

3. Mendirikan Universitas Dayanu Ikhsanuddin (Buton)
Dia mendirikan Universitas Dayanu Ikhsanuddin (Unidayan) bersama La Ode Malim pada tahun 1982. Tak hanya menanam dan menumbuhkan berbagai universitas, Manarfa juga bersemangat mengajar. Dialah satu-satunya dosen tertua di antara 930 dosen di empat perguruan tinggi yang ada di seluruh pelosok Sulawesi Tenggara. Bisa jadi dia dosen tertua di negeri ini. Sekali dalam sepekan, ia mengajar mata kuliah pendidikan akhlak dan budaya. Staminanya sungguh luar biasa. Syahdan, pada Agustus silam, reporter TEMPO menyaksikan sendiri bagaimana Manarfa berdiri dan berceramah memberikan kuliah perdana kepada para mahasiswa baru Unidayan selama tiga jam tanpa henti. Di dalam tubuh yang digerogoti 85 tahun kehidupan, toh jiwanya berkelojotan setiap kali para mahasiswanya berlomba-lomba mengajukan pertanyaan menyangkut materi perkuliahan yang diberikan. "Orang tua itu seperti tak pernah kehabisan energi," kata salah seorang koleganya kepada TEMPO. Dengan energi yang luar biasa dan kegiatan pendidikan yang tak berkesudahan sepanjang hidupnya, Manarfa tak kunjung menggunakan lembaga pendidikan sebagai lembaga komersial, meski peluang itu sungguh besar. Tak mengherankan, dia merasa cukup bernaung di sebuah rumah warisan yang sederhana berisi dua set sofa yang mulai tua, televisi 21 inci, tiga buah guci yang sudah agak kusam. Satu-satunya pemandangan yang mencolok di rumahnya adalah ribuan buku pelbagai tema yang tersusun rapi di rak-rak dan lemari yang menempel di dinding. Inilah yang menunjukkan bahwa dia seorang pendidik, pemikir yang hidup di alam ideal. Dia bahkan tak memiliki sebuah mobil pun hingga anaknyalah yang harus meminjamkan kendaraan dan sopir untuk mengantar ayahnya yang sudah renta itu. Dan di dalam kesederhanaannya itu, Manarfa juga masih menolak mengambil gajinya sebagai rektor. Menurut La Meta, bendahara Universitas Dayanu, setiap akhir bulan ketika disodori amplop gaji, Manarfa hanya meneken tanda terima lalu menyerahkan seluruh isinya ke kas universitas. "Ia bertekad menolak gaji dari Unidayan sampai perguruan tinggi dan semua karyawannya sejahtera," kata Meta.
Apa lagi nama yang bisa kita berikan kepadanya selain Pendekar Pendidikan dengan api yang menyala-nyala? Tak mengherankan bila senat Universitas Haluoleo, Sulawesi Tenggara, akhirnya mengganjarnya dengan dua penghargaan sekaligus, pada 19 Agustus 2002. Menurut Rektor Universitas Haluoleo, Mahmud Hamundu, penghargaan itu diberikan karena Manarfa dianggap sebagai tokoh yang berjasa memajukan pendidikan di Sulawesi Tenggara, dan mengembangkan Universitas Haluoleo.

3, Penutup
Kebanyakan dari kita kurang menghargai perjuangan tokoh daerah disebabkan sebuah egoisme tentang kedaerahan, keturunan dan kepemilikan. Padahal seorang pahlawan berjuang tanpa pamrih, tanpa memikirkan daerah siapa, keturunan siapa dan rakyat mana yang mereka perjuangkan. Mereka berjuang semampu mereka dengan tidak mengharapkan sebuah imbalan dan kekuasaan. Diotak mereka hanyalah sebuah keinginan demi kemajuan dan kesejahteraan buat rakyat dan bangsa. La Ode Falihi, berjuang dengan meninggalkan tahta kekuasaan dan Manarfah yang berjuang demi pembangunan pendidikan dan ahlak. Mereka adalah tokoh yang bisa menjadi inspirasi bangsa khususnya masyarakat Sulawesi Tenggara. Pahlawan Nasional bukanlah milik keturunannya saja, Pahlawan Nasional bukanpula milik daerah kelahirannya, namun Pahlawan Nasional adalah milik kita bangsa Indonesia. Untuk itu, perjuangan beliau dimasa lalu, patutlah kita hargai dan kita dukung menjadi Pahlawan Nasional.
Makassar 20/12/2010
Oleh : Rusman Bahar LM
Sumber
- Kementerian Sosial RI - Kerja Keras, Kerja Cerdas, Kerja Mawas, Kerja Selaras dan Kerja Tuntas, “Pahlawan”
- Ilmi Hasimin, 2009 “(Diantara Harapan dan Kenyataan), Pemekaran Buton Raya, Busel dan Buteng” Radar Buton
- Sejarah Singkat Sulawesi Tenggara, Sulawesitenggaraprov.go.id
- Zuhdi Susanto,2010, ”Perahu yang Berlayar di Antara Karang-Karang Kesultanan Butuni (1491-1960)” wisatadanbudaya.blogspot.com
- Isi Perjanjian Linggar Jati, Wikipedia.com
- Isi Perjanjian KMB, Wikipedia.com
- Negara IndonesiaTimur, Wikipedia.com
- Ibrahim Irianto, 2010 “Orang-orang Buton, Gemilang di Masa Lampau” Ini Ok.com
- Tempo online,2002 “Api Yang menyalah di Tubuh Manarfa”






#Shafar MA

Minggu, 27 Oktober 2019

Kader Penjilat dan Pemuja

Jokowi mengangkatMenteri dan Pejabat Tinggi, Kader HMI girang. Loh, apa urusannya? Mereka senang sebab lebih dari 5 Menteri dulunya berproses di HMI. Sederet tokoh dieluk-elukan, Mahfud MD, Muhadjir Effendy, Bahlil Lahadalia, Sofyan Djalil, Syahrul Limpo, Zainuddin Amali. Aku ikut bangga? Tidak! Tidak ada urusan HMI dengan Alumni.
Aku tak menyinggung soal pribadiMenteri. Bagiku dari HMI, PMII, GMNI, atau organisasi apapun, tak penting. Selama kebijakannya membawa manfaat bagi rakyat, aku akan membela. Sebaliknya, Menteri dari Alumni HMI sekalipun bila mencekik kepentingan rakyat, aku lawan!
Perilaku Kader HMI hari ini murahan. SaatAlumni dilantik jadi Menteri, PejabatTinggi, semua mengangkat-angkatnya setinggi langit. Seolah HMI hanya mencetak politisi. Di luar sana, jauh dari sorot kamera, tak pernah diberitakan, tak dibicarakan publik, banyak Alumni mengadvokasi kaum tertindas mencari keadilan, ada yang guru honorer mengajar di pedesaan. Orang baik seperti mereka dilupakan dan tak dicontoh para junior. Sungguh sangat disayangkan.
Seorang intelektual melihat orang bukan dari latar belakang atau identitas, tapi kualitas pribadi. Bila Kader memujiMenteri hanya karena senior, itu artinya mempraktikkan cara pandang politikSuku, Agama, Ras, dan Antar Golongan (SARA), itu mendengung-dengungkan ‘golongan.’ Padahal menteri jabatan publik, menteri itu pembantu presiden, milik rakyat, bekerja untuk rakyat, bukan HMI, bukan untuk organisasi asal.
Iya, kader Himpunan memang cerdas. Mereka tahu, saat senior jadi menteri, artinya terbuka luas lahan basah untuk diolah. Alumni jadi menteri berarti akan ada banyak program yang dikerjasamakan dengan adinda-adinda. Akan ada banyak proposal pengurus yang dikirim dan cair untuk penyerapan anggaran.
Dari dulu di sinilah letak menggiurkannya mengeluk-elukkan senior jadi menteri. Padahal secara organisasi, HMI dan alumninya atau KAHMI, tidak ada urusan langsung, hanya sebatas hubungan ‘historis’ dan ‘aspiratif.’ Harusnya sebagai kader, jangan berperilaku miskin dengan memuja senior yang jadi pejabat, sedangkan lupa bahwa yang jadi menteri bukan dirinya, tapi orang lain.
Kita kader HMI, menteri ya menteri. Yang dapat gaji, anggaran, kehormatan, pengaruh, ya menteri, bukan kita. Kita kok primitif, mengidap mental ‘kerumunan.’ Ada orang pernah di HMI, lalu jadi menteri, kita ikut bahagia setinggi langit, memujanya. Padahal orang itu bukan kita, dan dia tak mau menjadi kita. Dia adalah menteri, pejabat negara, kamu cuma anggota biasa HMI.
Ayo tahu diri! Berkacalah! Jangan terlalu bangga melihat orang lain jaya, sebab akan membuatmu lupa bahwa dirimu masih perlu belajar lagi. Hidup ini tentang diri sendiri, maka jangan lelah belajar untuk memajukan diri. Ku lihat, banyak kader sedang delusi. Alumni yang jadi menteri, dirinya yang merasa ikut jadi bagian dari kementerian, ini pola pikir ilusi.
Secara psikologis, orang yang punya idola adalah karena tak percaya diri. Sebab diri kurang, gagal, pengecut, maka meleburkan diri dengan orang sukses yang memiliki kesamaan identitas dengannya. Sama-sama pernah di HMI. Mental seperti ini mengobjekkan diri jadi korban simbol. Alumni jadi menteri disamakan seolah HMI yang menduduki kursi menteri, padahal sama sekali bukan.
Seorang intelektual harus yakin dirinya berbeda dari orang lain. Dengan percaya diri, orang tercerahkan mencoba mengubah dunianya, bukan malah mengandalkan orang lain. Kita harus jujur, kita sedari pikiran mengaku bahwa kita tak bisa jadi menteri. Maka satu-satunya cara untuk bangga adalah mengidentikkan diri dengan menteri, yaitu mengklaim sama-sama dari HMI.
Sayangnya kader kita juga naif. Selama tak menjabat apa-apa, alumni dicuekkin, tak diundang menjadi pembicara. Giliran diangkat jadi menteri, kepala lembaga, ramai-ramai memasang fotonya di semua lini masa. Undangan mengisi materi dikirim cepat-cepat, proposal dana dibikin banyak-banyak. Alumni dilihat bukan dari isi kepala, tapi karena jabatannya: menteri!
Apa kita tidak tahu malu? Sebelum senior menjabat, kita mencampakkanya. Eh, tiba-tiba diangkat jadi menteri, kita berubah jadi penjilat berharap kecipratan anggaran yang bisa dimainkan. Padahal, kalau alumni berkualitas, jadi pejabat atau tidak, harus diundang untuk berbagi ilmu. Apapun jabatannya, senior yang intelektual harus ditinggikan derajatnya.
Kita harus membiasakan adab. Jangan melihat orang dari jabatan, sebab orang bodoh tidak menjadi cerdas hanya karena diangkat jadi menteri. Sedangkan HMI ini wadah mencetak intelektualis, bukan kadal penjilat yang kemana-mana bawa proposal. Kalau yang dipuja hanya yang jadi menteri, pejabat, lalu bagaimana kita perlakukan alumni berilmu dan berbakti di pedesaan sana?
Di Training HMI, yang kita butuhkan pembicara cerdas dan bisa mencerahkan pikiran kader. Hanya karena diangkat jadi pejabat, alumni bodoh tidak serta merta jadi orang pintar. Maka, logika runut mengatakan: ‘Carilah pembicara yang mumpuni, cerdas otaknya, luas wawasannya. Menjabat sebagai apa, tidak penting. Sebab peserta LatihanKader II (LK II) berdiskusi dengan kualitas pematerinya, bukan jabatannya.
Sebenarnya kita miskin ekonomi atau perilaku? Sudah tahu alumni dan HMI tidak ada hubungannya, kok masih saja delusi. Mau enam, sembilan, atau dua puluh alumni jadi menteri, tidak ada urusannya. Menteri harus dijauhkan dari golongan atau identitas asal, sebab dia digaji rakyat, maka harus merasa sebagai kulinya rakyat, nafasnya untuk kepentingan rakyat, bukan jadi mesin ATM-nya kader HMI.
Aku heran, kenapa kepercayaan diri kader digantungkan pada seberapa banyak alumni jadi menteri. Memangnya kita ini tak punya prinsip? Mana jati diri seorang independen? Kader, ya kader. Menteri, ya menteri. Titik. Lama-lama mental kita jadi seperti pengemis, senior jadi menteri kitangiler. Siap-siap bikin proposal, berharap dana cair dan kita kecipratan rejeki penjilat.
HMI organisasi kader, tugas kita bukan menjilat-jilat menteri sambil bawa proposal. Kita berdiri di atas kaki sendiri, kita danai sendiri kegiatan kita. Agar independen, merdeka, kritis, dan selalu siap berteriak bila kebijakan pemerintah merenggut hak-hak masyarakat. Kader harus berpihak pada orang pinggiran, bukan tengak-tengok di pintu kantor bupati, gubernur, apalagi menteri.
Jadilah kader punya harga diri dan memihak bangsa, yang hobinya bukan memuji tindak-tanduk penguasa, tapi mengawasi kinerja pemerintah. Aneh bila aktivis kerjaannya mengangkat-angkat nama menteri hanya karena alumni. Kader semacam itu pasti punya niat untuk main proyek. Kalaupun demo, pasti malamnya sudah duduk di restoran, makan dengan yang didemo.
Aku tidak mengajak memusuhi alumni yang jadi menteri, tidak, sama sekali tidak. Hanya saja, ayok lah kita berpikir lebih jernih, rasional, objektif dan mengutamakan kepentingan bangsa ketimbang perut sendiri. Kamu tidak tahu, kan? Gaji dan fasilitas menteri itu didapat dari berapa juta keringat rakyat? Menteri diupah dari jutaan wajib pajak yang dikumpulkan dari seluruh golongan.
Alumni jadi menteri tidak usah digembar-gemborkan. Toh, yang dulu dulu, saat pelantikan dipuja puji, beberapa waktu kemudian dicokok KPK. Bikin malu saja. Mereka dulu ber-HMI, ya itu dulu, sudah lewat. Sekarang ya sekarang. Tidak usah dibesar-besarkan. Kita awasi mereka sebagai menteri, bukan sebagai alumni atau senior. Lagi pula, dalam politik tak mengenal senior junior, semua berjalan berdasarkan tarik ulur kepentingan.
Menteri, ya menteri. Kamu, ya kamu. Yang digaji puluhan juta, ya menteri. Kamu cuma kader komisariat, ngopi di kedai saja mikir-mikir. Sudahlah, realistis saja. Fokus kembangkan diri, baca buku yang banyak, kurangi mesum, jangan banyak mengigau di siang hari. Dari pada kamu ikut posting foto alumni yang jadi menteri, lebih baik kamu cari info LKK, LKII, atau SC, lalu berangkat! Dasar kader kemplo![]

#Shafar_MA

Minggu, 20 Oktober 2019

Kader Hijau Merah Himpunan Mahasiswa Islam

Beberapa tahun belakangan ini, banyak kabar berita, baik lewat media sosialonline ataupun berita dari mulut ke mulut, membicarakan terkait pemikiran kader-kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) saat ini. Banyak kalangan, baik dari dalam HMI (Alumni) dan dari luar HMI, sudah mulai meragukan pemikiran kader-kader HMI saat ini. Mereka mulai meragukan perkaderan HMI atau bahkan mencurigainya. Hal ini harus kita akui, saat ini banyak kalangan yang lebih kecewa pada kader-kader HMI saat ini, yang tidak bisa meneruskan dan atau mempertahankan garis perjuangan yang pernah ditoterahkan oleh pendahulu-pendahulu HMI.
Banyak muncul stigma masyarakat bahwa beberapa kader HMI telah terpengaruh dan terbawa arus paham liberalisme, sekularisme, bahkan lebih parah lagi terpengaruh oleh ideologi komunisme dan Marxisme. Stigma itu muncul bukan tanpa sebab. Tentunya karena ada yang dilihat dari perilaku kader-kader HMI saat ini, begitu juga dalam pola pemikirannya. Alhasil itu semua, yang pertama diragukan adalah sistem perkaderan HMI.
Melihat fenomena kader-kader HMI saat ini, dan beberapa tahun belakangan ini, kader-kader kita sering latah. Maksud saya adalah, di HMI memang kita mempelajari segalanya tanpa ada batas dan tanpa ada larangan. Tujuan untuk mempalajari segalanya, termasuk mempelajari ideologi komunis, adalah supaya kita mengetahui dan tidak terpengaruh oleh ideologi-ideologi yang bertentangan dengan ajaran Islam. akibat dari sifat kelatahan beberapa kader HMI saat ini, ia pun dengan bangganya membela ideologi-ideologi yang bertentangan dengan ajaran agama Islam. bahkan ada yang mengawinkan Islam dengan komunis dengan landasan historis orang-orang agamawan di Indonesia yang masuk Sarekat Islam Merah, H. Misbach. Kelompok ini pun mengatakan bahwa komunis tidan bertentangan dengan Islam.
Saya pernah menemukan beberapa kader HMI bangga dengan teori-teori aliran komunisme daripada teori yang ada dalam agama Islam. Mereka menganggap bahwa ajaran Islam tidak mampu menjawab permasalahan yang ada. Akibat dari mengagungkan teori-teori komunisme sehingga mereka mengkultuskan si pencetus teori, katakanlah itu Karl Marx, Engels, Lenin, Stalin, Mao Zedong dan yang lainnya. Menurut saya, kader-kader yang seperti ini hanya memahami Islam secara syariat saja atau bersifat fiqiyah. Padahal ajaran itu sangat luas untuk membahasa seluruh isi dunia ini hingga akhir kelak nanti.
Sifat latah. Ya, demikian yang saya sebutkan di atas tadi. Maksud saya adalah, ada beberapa kader HMI, baru sekali selesai membaca toeri-teori kiri (baca: komunisme), seperti membaca Das Kapitalnya Marx, Manifesto Partai Komunis, yang ditulis Karl Marx dan Engels, bukunya Tan Malaka, dan buku-buku komunis lainnya, seorang kader tersebut langsung mengaminkan tanpa terlebih dahulu menganalisisnya, membandingkannya dan membuktikan teori-teori sesat tersebut.
Akibat dari sifat kelatahan tersebut, membuat seorang kader HMI menjadi terpengaruh dan perlahan-lahan mulai berani mengatakan atu mengawinkan bahwa komunisme tidak bertentangan dengan Islam. Bahkan ada yang lebih ekstrim dan lebih sesat lagi, seorang kader tersebut mulai membuang ajaran agamanya dan menggantikannya dengan ajaran ideologi komunisme yang sesat itu.
Inilah yang saya maksudkan sebagai kader-kader “semangka”. Di luarnya hijau (kader HMI secara formal dan beragama Islam) tapi, isi pemikirannya merah (ideologi komunis). Jika pun ada yang menyangkalnya bahwa semangka itu tidak hanya berwarna merah, tapi ada juga yang berwarna kuning, ya, saya dapat mengatakannya bahwa, ia seorang kader HMI (warnanya saja) tapi dalamnya sudah terkontaminasi dan ikut partai politik Gol*** yang berwarna kuning, atau ikut partai politik yang lain. Untuk itu, yang terpenting adalah, janganlah kita sebagai seorang kader menjadi kader “semangka”.[]


Sabtu, 23 Maret 2019

Bone Tondo Ntiarasino


Bone Tondo sejak dahulu dikenal dengan kekentalan adat istiadat.Nya yang mengatur segala kehidupan bermasyarakat disana. Masyarakat.Nya hidup damai dan tentram, mayoritas masyarakat desa Bone Tondo adalah petani, setiap harinya mereka selalu berkebun bahkan jarang ada waktu.nya mereka untuk bersenda gurau dengan sanak keluarga.nya, walaupun demikian masyarakat. Nya tetap harmonis dalam bingkai kebhinekaan.
Akhir-akhir ini desa Bone Tondo dihampiri berbagai macam masalah, dan masalah ini membuat sekat-sekat diantara masyarakat desa Bone Tondo, ini menurut hemat saya.
Masalah tersebut menurut pandangan saya sebenarnya bisa diselesaikan secara kekeluargaan namun pihak yang terkait dalam masalah ini saling baku tahan ilmu dan tidak ada yang mau mengeluarkan saran yang bisa menyelesaikan sengketa tersebut. Dulu ketika ada masalah di desa Bone Tondo selalunya diselesaikan secara kekeluargaan dan ada penengah diantara pihak yang bersengketa yaitu orang tua/tokoh kampung.
 Yang menjadi pertanyaan saya apakah di desa Bone Tondo ini tidak adami lagi Orang tua/tokoh yang bisa menjadi penengah dari masalah ini, kenapa harus di umbar-umbar di luat desa Bone Tondo masalah tersebut. Ini masalah, masalah kita semua. Semua masyarakat desa bone Tondo terlibat dalam masalah ini, jika sudah tersebar dimana mana bukan lagi pihak yang bersangkutan yang rusak tetapi seluruh masyarakat desa Bone Tondo yang dapat impasnya. Saya sebagai pemuda desa Bone Tondo merasa sangat kasihan dengan kondisi kampung kita sekarang. Sampaikan kepada kami generasi muda ini jika di Desa Bone Tondo sana sudah MATI semua orang tua/tokoh yang biasanya menjadi penengah. Kenapa ada masalah urgent seperti ini hanya tinggal di bawah tempat tidurnyaa........ Masalah ini jika tidak diselesaikan secepatnya akan berimbas kepada kami kaum pemuda. Jika pemuda Bone Tondo terpecah belah apa jadinya desa kami ini???? Apaa....??? Mengapa orangtua kami sendiri dikampung berniat menghancurkan generasi mudanya???
Saya sangat menyayangkan masalah ini, memasuki momen politik masalah yang tadinya bisa diatur dijadikan bahan gorengan yang dimana itu demi kepentingan sepihak dan tanpa disadari kepentingan tersebut telah membuat sekad diantara masyarakat desa Bone Tondo. saya sebagai pemuda desa Bone Tondo memohon kepada semua pihak yang terkait dalam masalah tersebut agar menghentikan mengumbar² aib desa kita BONE TONDO NTIARASINOO.
#Jika ada salah kata dalam penulisanku mohon dimaafkan dan mohon diluruskan.
#Salam literasi
#Salam persatuan
#Tunjukan jalan yang indah.
#Shafar Muna-Ambon

Selasa, 10 April 2018

Indonesia Negara Buta dan Tuli

         Indonesiaku, yang katanya Negara subur dan beranekaragam akan kekayaan alamnya. Setelah sekian lama diikrarkan naskah proklamasi kemerdekaannya oleh Sang proklamator terhebat yaitu Ir. Suekarno ia adalah presiden pertama negara Republik ini yang mampu membawa indonesia kedepan pintu gerbang kemerdekaannya.

         Dari zaman-kezaman silih berganti kepemimpinan di Indonesia ini telah berubah, dan pemimpinnya dengan berbagai sistem kepemimpinannya merubah negara ini menjadi hambar dan memasuki detik-detik kehancuran.

         Mengapa saya mengatakan pemimpin negara ini silih berganti membawa negara ini keambang kehancuran, karena sedikit demi sedikit kekayaan alamnya negara ini dijadikan lahan kekayaan buat penguasa yang haus akan pundi-pundi rupiah yang nilainya seharga harga dirinya mereka.

         Negara ini seakan-akan berubah menjadi negara siluman, negara buta, negara tuli akan berbagai keluhan dan jeritan masyarakatnya yang memprihatinkan. Para pemimpin hanya mementingakan ego semata dan nama baik pribadi tetapi nama baik negara mereka lelang dan menjadikannya lelucon, saya sebagai mahasiswa Universitas Halu Oleo merasa miris melihat kondisi tersebut.

         Hematku, diantara ke- 7 pemimpin indonesia ini hanyalah sosok seperti Bapak Ir. Suekaro lah yang ku hargai karena perjuangan beliau tetap kami kenang hingga abad ke-21 ini. Namanya tetap harum dan bijaksananya tetap berkiprah dipermukaan bumi indonesia. Kini negaraku Indonesia telah memasuki era kehancuran.

         Indonesia telah berubah wujud menjadi negara buta dan tuli, mengapa demikian ???
Karena banyak rintihan, tangisan dan kemiskinan dimana-mana. Tidak ada yang memeperhatikan mereka, tempat persinggahan dan peristrahatannya hanyalah beralaskan tanah dan beratapkan fondasi jembatan yang lama kelamaan akan hancur tetapi mereka tetap bertahan karena tidak ada rasa kepekaan dari sang pemimpin.

         Banyak dari anak-anak mereka yang ingin berpendidikan dengan tujuan kedepannya mereka bisa menyulap kondisi keluarga mereka tapi lagi lagi dan lagi hanyalah mimpi yang suram yang tidak bisa di capainya jika tidak ada dukungan dari sang penguasa....

Banyak dari kalangan kaum intelektual turun teriak-teriak dijalan,  Menyuarakan rintihan masyarakat tapi lagi, lagi dan lagi Semua tataran birokrasi tidak pernah mendengar rintihan tersebut mereka hanya menikmati kursi panas yang dinama itu posisi mereka sangatlah tergantung pada keikhlasan rakyat-rakyat yang sedang menderita.

Mereka hanya memanfaatkan rakyat demi kesenangan mereka dikehidupan dunia yang sifatnya hanya sementara ini, percuma saat pesta demokrasi tiba mereka selalu mengumbar-ngumbar janji kepada rakyat tapi nyatanya saat keinginan mereka terpenuhi janji itu lenyap terbawa angin yang berhembus.

Sistem demokrasi indonesia bukanlah dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat tapi dari rakyat oleh dan untuk para pengumbar janji. Dimana posisi rakyat???  Yang katanya suara rakyat itu suara Tuhan.?????


         Melihat realita tersebut, kita sebagai generasi idealis bangsa marilah kita saling berpangku tangan untuk mewujudkan mimpi-mimpi tersebut agar generasi kedepannya tidak cacat akan ilmu yang berpendidikan.
     
          Marilah sama-sama kita buat revolusi baru pada zaman yang baru dan keadaan yang baru agar hal-hal yang lama bisa kita perbaharui...... Jika ada kedzaliman tuntaskan, jika ada penghianatan lenyapkan, jika ada dusta kucilkan, dan jika ada konflik solusikan.
Indonesiaku negara subur dan makmur.

#Shafar Muna-Ambon

Peran Generasi Muda Dalam Menangkal Hoax and Hatespeech

  Masa depan Bangsa Indonesia sangatlah ditentukan oleh paran generasi muda Bangsa ini. Kaum Muda Indonesia adalah masa depan Bangsa ini. Ka...